7 Organ yang Bisa Rusak akibat Diabetes
7 Organ yang Bisa Rusak akibat Diabetes
Diabetes, yang sering disebut penyakit gula, terjadi ketika kadar gula darah terlalu tinggi. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan saraf sehingga mengganggu fungsi berbagai organ.
Komplikasi diabetes dapat menyerang ginjal, jantung, mata, saraf, otak, kulit, kaki, serta gigi dan mulut. Risiko meningkat jika gula darah, tekanan darah, dan kolesterol tidak terkontrol. Diabetes juga dapat berkembang tanpa gejala, sehingga pemeriksaan rutin tetap diperlukan.
Mengapa Diabetes Dapat Merusak Organ?
Gula darah tinggi yang menetap dapat merusak lapisan pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi kaku, mudah mengalami peradangan, dan tidak mampu mengalirkan darah secara optimal. Kerusakan pembuluh darah kecil terutama memengaruhi mata, ginjal, dan saraf. Kerusakan pembuluh darah besar meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan aliran darah ke kaki.
Diabetes juga dapat menyebabkan neuropati diabetik atau kerusakan saraf. Gejalanya meliputi kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, nyeri, dan kelemahan. Jika saraf yang mengatur organ dalam terdampak, fungsi pencernaan, kandung kemih, tekanan darah, dan fungsi seksual dapat terganggu.
1. Ginjal
Ginjal menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Gula darah tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras dan secara bertahap dapat merusak sistem penyaringan. Kondisi ini disebut penyakit ginjal diabetik atau nefropati diabetik.
Pada tahap awal, kerusakan ginjal sering tidak menimbulkan gejala. Tanda pada tahap lanjut dapat berupa urine berbusa, pembengkakan pada kaki atau sekitar mata, mudah lelah, mual, nafsu makan menurun, kulit gatal, perubahan frekuensi buang air kecil, kram otot, dan sulit berkonsentrasi.
Pemeriksaan dapat meliputi tes urine untuk mendeteksi albumin serta tes darah untuk mengukur kreatinin dan fungsi ginjal. Pencegahan dilakukan dengan mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, mengurangi garam jika dianjurkan, serta menghindari obat atau suplemen tanpa arahan tenaga kesehatan.
2. Jantung
Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, gagal jantung, dan gangguan irama jantung. Gula darah tinggi dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, dan kebiasaan merokok dapat memperbesar risiko.
Waspadai nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, jantung berdebar, mudah lelah, keringat dingin, mual, pusing, serta nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang. Pada penderita diabetes, serangan jantung terkadang tidak disertai nyeri dada yang jelas.
Kurangi risiko dengan mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol; berhenti merokok; menjaga berat badan; beraktivitas fisik sesuai kemampuan; membatasi lemak jenuh dan garam; serta mengikuti pengobatan dokter.
3. Mata
Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina dan menyebabkan retinopati diabetik. Kondisi ini dapat berkembang tanpa gangguan penglihatan pada tahap awal. Pembuluh darah yang rusak dapat bocor, membengkak, atau memicu pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang mengancam penglihatan.
Diabetes juga meningkatkan risiko katarak dan glaukoma. Gejalanya dapat berupa penglihatan buram, bintik atau garis gelap, perubahan penglihatan, sulit melihat pada malam hari, nyeri mata, serta kehilangan penglihatan. Penurunan penglihatan mendadak memerlukan pertolongan medis segera.
Pemeriksaan mata berkala penting untuk menemukan kerusakan sebelum penglihatan terganggu.
4. Saraf
Neuropati diabetik terjadi ketika gula darah tinggi merusak serabut saraf dan pembuluh darah yang memasoknya. Neuropati perifer paling sering memengaruhi kaki dan tangan. Neuropati otonom dapat mengganggu lambung, usus, kandung kemih, pembuluh darah, dan organ seksual.
Gejalanya meliputi kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, nyeri menusuk, kram, kelemahan, gangguan keseimbangan, gangguan pencernaan, pusing saat berdiri, serta gangguan buang air kecil atau fungsi seksual.
Mati rasa dapat membuat luka kecil tidak disadari. Luka akibat sepatu sempit, benda tajam, atau panas dapat membesar, terinfeksi, dan sulit sembuh. Periksa kaki setiap hari dan kendalikan gula darah untuk mengurangi risiko.
5. Pembuluh Darah dan Otak
Diabetes dapat mempercepat aterosklerosis, yaitu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini dapat mengurangi aliran darah ke jantung, otak, dan kaki. Penyakit arteri perifer dapat menyebabkan nyeri kaki saat berjalan, kaki dingin, perubahan warna kulit, dan luka yang sulit sembuh.
Stroke terjadi ketika pembuluh darah otak tersumbat atau pecah. Tanda-tandanya meliputi wajah mencong, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, bicara pelo, sulit berbicara atau memahami pembicaraan, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, pusing berat, dan sakit kepala mendadak.
Gejala stroke membutuhkan pertolongan darurat. Jangan menunggu gejala menghilang dan jangan mengemudi sendiri ke fasilitas kesehatan.
6. Kulit dan Kaki
Gula darah tinggi dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi. Sirkulasi darah yang buruk memperlambat penyembuhan, sedangkan kerusakan saraf membuat luka tidak terasa. Kulit juga dapat menjadi kering, gatal, mudah pecah, dan rentan mengalami iritasi.
Masalah yang perlu diwaspadai meliputi lecet, kapalan, kulit pecah-pecah, infeksi, ulkus kaki diabetik, dan jaringan mati pada kasus berat.
Perawatan kaki meliputi:
- Periksa kaki setiap hari, termasuk telapak dan sela-sela jari.
- Cuci dan keringkan kaki, terutama di antara jari.
- Gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak sempit.
- Jangan berjalan tanpa alas kaki.
- Potong kuku dengan hati-hati.
- Jangan mengorek kapalan atau memecahkan lepuh sendiri.
- Gunakan pelembap pada kulit kering, tetapi hindari sela-sela jari.
- Segera periksakan luka yang merah, bengkak, panas, bernanah, atau tidak membaik.
7. Gigi dan Mulut
Diabetes dapat meningkatkan kadar gula dalam air liur dan menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi. Akibatnya, penderita lebih berisiko mengalami penyakit gusi, gigi berlubang, mulut kering, infeksi jamur, dan luka mulut yang sulit sembuh. Infeksi gusi yang tidak tertangani juga dapat menyulitkan pengendalian gula darah.
Periksakan diri jika gusi mudah berdarah, bengkak, atau kemerahan; bau mulut menetap; gigi goyang; mulut kering; luka sulit sembuh; nyeri saat mengunyah; atau gigi sensitif dan berlubang.
Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, bersihkan sela-sela gigi, batasi makanan dan minuman manis, serta periksakan gigi secara berkala.
Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan
Jadwalkan pemeriksaan medis jika mengalami luka yang sulit sembuh, penglihatan buram, pembengkakan, urine berbusa, kesemutan menetap, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan terus-menerus, infeksi berulang, nyeri kaki saat berjalan, atau gangguan buang air kecil.
Cari pertolongan darurat jika terjadi nyeri dada berat, sesak napas mendadak, gejala stroke, penurunan kesadaran, muntah terus-menerus, kebingungan, kadar gula sangat tinggi disertai lemas berat, luka kaki bernanah atau menghitam, serta gangguan penglihatan mendadak.
Cara Mencegah Komplikasi Diabetes
- Kendalikan gula darah sesuai target dokter.
- Konsumsi obat atau insulin sesuai resep dan jangan menghentikannya tanpa berkonsultasi.
- Pilih makanan kaya sayuran, serat, dan protein sehat dengan porsi terukur.
- Batasi minuman manis, makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
- Beraktivitas fisik sesuai kemampuan.
- Berhenti merokok.
- Jaga berat badan.
- Periksa gula darah, HbA1c, tekanan darah, kolesterol, fungsi ginjal, mata, kaki, saraf, jantung, serta gigi sesuai anjuran dokter.
Kesimpulan
Diabetes dapat merusak ginjal, jantung, mata, saraf, pembuluh darah, otak, kulit, kaki, serta gigi dan mulut. Kerusakan sering berkembang perlahan tanpa gejala. Pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, pola makan seimbang, aktivitas fisik, berhenti merokok, serta pemeriksaan rutin dapat mencegah atau memperlambat komplikasi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah diabetes pasti menyebabkan kerusakan organ?
Tidak. Risiko meningkat jika gula darah tidak terkontrol dalam waktu lama. Pengobatan, pola hidup sehat, dan pemeriksaan rutin dapat mencegah atau memperlambat komplikasi.
Apakah diabetes dapat merusak ginjal tanpa gejala?
Ya. Kerusakan tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan. Pemeriksaan urine dan darah diperlukan untuk mendeteksinya.
Mengapa penderita diabetes rentan mengalami luka kaki?
Kerusakan saraf dapat membuat luka tidak terasa. Sirkulasi darah yang buruk dan gula darah tinggi juga memperlambat penyembuhan serta meningkatkan risiko infeksi.
Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?
Segera cari pertolongan jika mengalami nyeri dada, sesak napas, gejala stroke, penurunan kesadaran, luka kaki bernanah, kadar gula sangat tinggi disertai kebingungan, atau gangguan penglihatan mendadak.
Belum ada komentar.