Dinkes Jambi Imbau Waspadai DBD Saat Kemarau
Dinkes Jambi Imbau Waspadai DBD Saat Kemarau
Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD) selama musim kemarau. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tidak hanya berisiko muncul saat curah hujan tinggi.
Wadah penampungan air di rumah dan genangan kecil di sekitar permukiman tetap dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk penular DBD. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa tempat air, memberantas jentik, menerapkan 3M Plus, dan mengenali gejala sejak dini.
Mengapa DBD Tetap Berisiko Saat Kemarau?
Anggapan bahwa DBD hanya terjadi pada musim hujan perlu diluruskan. Nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak di genangan air bersih yang berada di dalam maupun sekitar rumah.
Saat kemarau, sebagian masyarakat menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wadah yang tidak ditutup dan dibersihkan secara rutin dapat menjadi tempat nyamuk bertelur. Risiko juga dapat muncul setelah hujan singkat ketika air tertampung di kaleng, botol, ban bekas, pot tanaman, talang, atau benda lain.
Genangan tidak harus besar untuk mendukung perkembangbiakan nyamuk. Pemeriksaan perlu dilakukan di halaman, gudang, tempat parkir, sekolah, tempat kerja, dan area terbuka lainnya.
Wadah yang Perlu Diperiksa
Beberapa tempat sering luput dari pemeriksaan, antara lain:
- Bak mandi, tempayan, ember, dan drum.
- Tatakan pot tanaman.
- Talang air yang tersumbat.
- Ban, botol, dan kaleng bekas.
- Wadah minum hewan.
- Mainan anak yang diletakkan di luar rumah.
- Wadah plastik yang tidak lagi digunakan.
Mengganti air tanpa membersihkan permukaan wadah belum cukup. Telur nyamuk dapat menempel pada dinding wadah sehingga permukaannya perlu dikuras dan disikat. Tempat penampungan air juga harus ditutup rapat.
Wadah kosong sebaiknya disimpan dalam posisi terbalik. Barang bekas yang dapat menampung air perlu dibuang atau didaur ulang. Ban bekas harus disimpan di tempat kering dan terlindung dari hujan.
Pencegahan DBD dengan 3M Plus
Pencegahan DBD memerlukan tindakan rutin. Masyarakat tidak perlu menunggu adanya kasus di sekitar rumah untuk mulai membersihkan lingkungan.
1. Menguras Tempat Penampungan Air
Bak mandi, tempayan, ember, drum, dan tempat penampungan air perlu dikuras secara berkala. Dinding wadah harus disikat untuk menghilangkan telur nyamuk yang menempel. Wadah yang jarang digunakan juga tetap perlu diperiksa.
2. Menutup Rapat Wadah Air
Drum, tempayan, ember, dan wadah lain perlu ditutup rapat tanpa celah yang memungkinkan nyamuk masuk. Gunakan penutup yang mudah dibuka agar pembersihan tetap dapat dilakukan.
3. Menyingkirkan atau Mendaur Ulang Barang Bekas
Kaleng, botol, wadah plastik, ban, dan barang lain yang dapat menampung air perlu dibuang, didaur ulang, atau disimpan di tempat tertutup dan kering. Periksa pula area belakang rumah, gudang, tempat parkir, dan lahan kosong di sekitar permukiman.
4. Melakukan Tindakan Plus
Tindakan tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk meliputi:
- Menggunakan kelambu, terutama untuk bayi dan anak-anak.
- Mengenakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh.
- Menggunakan pengusir nyamuk sesuai petunjuk pada kemasan.
- Memasang kawat kasa pada ventilasi jika memungkinkan.
- Menjaga sirkulasi udara dan pencahayaan ruangan.
- Membersihkan halaman serta saluran air.
- Mengikuti arahan petugas kesehatan terkait pemberantasan sarang nyamuk.
Obat atau bahan pembasmi nyamuk harus digunakan sesuai aturan. Jangan menggunakannya secara berlebihan atau mencampurkan bahan tanpa petunjuk yang jelas.
Peran Keluarga dan Lingkungan
Pencegahan DBD tidak cukup dilakukan oleh satu orang. Setiap keluarga perlu memiliki jadwal pemeriksaan tempat penampungan air, termasuk bak mandi, ember, pot, talang, dan barang bekas.
Anak-anak perlu dibiasakan tidak meninggalkan botol, gelas, mainan, atau wadah lain yang dapat menampung air di luar rumah. Warga juga dapat membersihkan halaman, selokan, dan area bersama secara berkala.
Jika ditemukan jentik atau lingkungan yang berisiko, informasikan kepada kader kesehatan, pengurus rukun tetangga, atau petugas setempat. Pemeriksaan juga perlu dilakukan di sekolah, tempat kerja, tempat ibadah, dan fasilitas umum.
Cara Memeriksa Jentik
- Periksa bak mandi, ember, tempayan, dan drum.
- Amati tatakan pot, talang, serta saluran air.
- Periksa kaleng, botol, ban, dan barang bekas.
- Perhatikan jentik yang bergerak di air.
- Buang air dari wadah yang tidak diperlukan.
- Kuras dan sikat wadah yang masih digunakan.
- Minta arahan petugas kesehatan jika diperlukan penanganan khusus.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sebelum muncul kasus. Menunggu seseorang sakit dapat membuat pemberantasan terlambat.
Kenali Gejala DBD Sejak Dini
Gejala yang dapat muncul meliputi:
- Demam.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot dan sendi.
- Nyeri di belakang mata.
- Mual atau muntah.
- Lemas.
- Ruam pada kulit.
Gejala dapat berbeda pada setiap orang. Satu gejala saja tidak cukup untuk memastikan DBD. Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui pemeriksaan yang sesuai.
Tanda yang Memerlukan Pertolongan Medis
Segera bawa penderita ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila demam memburuk atau disertai:
- Muntah berulang.
- Nyeri perut berat.
- Perdarahan dari hidung atau gusi.
- Muntah atau buang air besar disertai darah.
- Tubuh sangat lemas.
- Mengantuk berlebihan, gelisah, atau sulit dibangunkan.
- Tangan dan kaki terasa dingin.
- Kurang buang air kecil.
- Sulit makan dan minum.
- Tanda kekurangan cairan.
Orang yang demam perlu beristirahat dan memenuhi kebutuhan cairan sesuai kondisi. Pantau suhu tubuh dan perubahan gejala secara berkala. Konsultasikan kondisi kepada dokter, puskesmas, atau fasilitas kesehatan.
Hindari mengonsumsi obat secara sembarangan. Antibiotik tidak boleh digunakan tanpa resep karena DBD disebabkan oleh virus. Jika demam memburuk atau muncul tanda bahaya, segera cari pertolongan medis.
Kewaspadaan Saat Perubahan Cuaca
Kewaspadaan terhadap DBD perlu disertai kebiasaan menjaga kesehatan selama musim kemarau dan pancaroba. Warga perlu menjaga kebersihan, asupan cairan, pola makan, dan waktu istirahat.
Jika terdapat kabut asap atau dampak kebakaran hutan dan lahan, ikuti arahan resmi petugas kesehatan. Namun, pencegahan DBD tetap berfokus pada pemberantasan tempat berkembang biak nyamuk dan pengenalan gejala.
Kesimpulan
DBD tetap dapat terjadi saat musim kemarau. Wadah air terbuka, genangan kecil, dan barang bekas di sekitar rumah dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
Terapkan 3M Plus dengan menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas, serta mengurangi risiko gigitan nyamuk. Masyarakat Jambi perlu memeriksa jentik secara rutin dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam dengan tanda bahaya.
FAQ Seputar DBD Saat Musim Kemarau
Apakah DBD hanya terjadi saat musim hujan?
Tidak. DBD juga dapat terjadi saat musim kemarau karena nyamuk penularnya dapat berkembang biak di wadah yang menampung air.
Mengapa kemarau dapat meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk?
Sebagian warga menyimpan air dalam ember, bak, drum, atau wadah lain. Jika tidak ditutup dan dibersihkan, wadah tersebut dapat menjadi tempat nyamuk bertelur.
Bagaimana cara mencegah DBD di rumah?
Terapkan 3M Plus: kuras tempat penampungan air, tutup rapat wadah penyimpanan, singkirkan atau daur ulang barang bekas, dan kurangi risiko gigitan nyamuk.
Kapan penderita demam harus dibawa ke fasilitas kesehatan?
Segera cari pertolongan medis jika demam memburuk atau disertai muntah berulang, nyeri perut berat, perdarahan, tubuh sangat lemas, tangan dan kaki dingin, sulit minum, kurang buang air kecil, atau kesadaran menurun.
Siapa yang bertanggung jawab mencegah DBD?
Pencegahan membutuhkan peran bersama. Keluarga membersihkan rumah, warga menjaga lingkungan, sekolah dan tempat kerja memeriksa area masing-masing, sedangkan pengelola fasilitas umum memastikan tidak ada wadah atau genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Belum ada komentar.