Breaking
HOME DUNIA BISNIS TEKNOLOGI HIBURAN OLAHRAGA SAINS KESEHATAN Privacy Policy

Kebiasaan Malam Ini Dikaitkan dengan Risiko Stroke 26%

Kebiasaan Malam Ini Dikaitkan dengan Risiko Stroke 26%

Kebiasaan Malam Ini Dikaitkan dengan Risiko Stroke 26%

Tidur larut malam, jadwal tidur yang berubah-ubah, atau tetap beraktivitas hingga dini hari mungkin terasa sepele. Namun, pola malam tertentu dilaporkan berkaitan dengan risiko stroke yang lebih tinggi.

Riset yang diberitakan detikHealth menemukan bahwa kelompok dengan kebiasaan malam tertentu memiliki risiko stroke 26 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding Sumber 1.

Angka tersebut tidak berarti setiap orang yang tidur larut malam pasti mengalami stroke. Temuan itu menggambarkan hubungan statistik dalam penelitian, bukan kepastian bahwa kebiasaan tertentu secara langsung menyebabkan stroke.

Kebiasaan Malam yang Perlu Diperhatikan

Pola yang dapat mengganggu tidur meliputi:

  • Tidur terlalu larut secara rutin.
  • Jam tidur dan bangun yang sering berubah.
  • Durasi tidur yang tidak mencukupi.
  • Tetap aktif pada malam hari hingga mengurangi waktu tidur.
  • Menggunakan ponsel, tablet, komputer, atau televisi menjelang tidur.
  • Mengonsumsi kafein, minuman manis, atau makanan berlebihan pada malam hari.
  • Duduk terlalu lama tanpa aktivitas fisik.

Tidak semua kebiasaan tersebut dipastikan menjadi variabel yang diteliti dalam riset utama. Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah pola tidur malam atau kebiasaan malam yang mengganggu tidur.

Apa Arti Risiko Stroke 26 Persen Lebih Tinggi?

Angka 26 persen umumnya merujuk pada risiko relatif, yaitu perbandingan kemungkinan suatu kejadian antara satu kelompok dan kelompok pembanding. Angka itu tidak berarti 26 dari 100 orang pasti mengalami stroke.

Sebagai contoh, jika risiko awal dalam suatu kelompok adalah 10 dari 100 orang, peningkatan relatif sebesar 26 persen tidak otomatis berarti 26 dari 100 orang akan terkena stroke. Risiko absolut harus dilihat berdasarkan angka awal, karakteristik peserta, durasi penelitian, dan metode yang digunakan.

Risiko stroke juga dipengaruhi oleh:

  • Usia.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Diabetes.
  • Kolesterol tinggi.
  • Merokok.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Berat badan berlebih.
  • Kurang aktivitas fisik.
  • Riwayat keluarga.
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah.

Mengapa Pola Tidur Dapat Berkaitan dengan Stroke?

Hubungan antara tidur dan stroke kemungkinan melibatkan berbagai faktor. Kebiasaan malam sering berjalan bersama pola makan, aktivitas fisik, stres, dan kondisi kesehatan lain.

Gangguan Tidur dan Tekanan Darah

Tidur membantu tubuh beristirahat dan mengatur fungsi fisiologis. Gangguan tidur atau jadwal tidur yang tidak teratur dapat berkaitan dengan tekanan darah yang kurang terkendali pada sebagian orang.

Tekanan darah tinggi dapat membebani dan merusak dinding pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak.

Orang dengan hipertensi perlu memeriksa tekanan darah secara berkala dan mengonsumsi obat sesuai resep. Jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Kurang Tidur dan Metabolisme

Kurang tidur dapat berkaitan dengan perubahan gula darah, nafsu makan, berat badan, dan respons stres. Seseorang yang tidur terlalu sedikit mungkin lebih mudah lapar atau memilih makanan tinggi kalori.

Kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme. Kurang tidur juga dapat menyebabkan kelelahan sehingga aktivitas fisik berkurang.

Gangguan Ritme Sirkadian

Ritme sirkadian membantu mengatur waktu tidur dan bangun, hormon, suhu tubuh, serta berbagai fungsi lainnya. Tidur sangat larut atau memiliki jadwal yang terus berubah dapat mengganggu ritme ini.

Akibatnya, seseorang mungkin sulit tidur, mudah terbangun, atau tidak merasa segar ketika bangun. Jadwal tidur dan bangun sebaiknya dibuat konsisten, termasuk pada akhir pekan jika memungkinkan.

Perilaku Kurang Sehat yang Menyertai Begadang

Begadang dapat disertai kebiasaan lain, seperti mengonsumsi makanan tinggi kalori, minuman manis atau berkafein, merokok, duduk terlalu lama, kurang bergerak, dan mengalami stres. Perilaku tersebut juga dapat memengaruhi tekanan darah, gula darah, berat badan, dan kesehatan pembuluh darah.

Faktor Risiko Stroke yang Perlu Diwaspadai

Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke. Banyak orang tidak merasakan gejala meskipun tekanan darahnya tinggi. Pemeriksaan rutin diperlukan, terutama jika dokter telah meresepkan obat.

Diabetes

Gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah. Pengendalian diabetes mencakup pola makan, aktivitas fisik, pengobatan, dan pemeriksaan lanjutan.

Kolesterol Tinggi

Kadar kolesterol tertentu yang terlalu tinggi dapat berkontribusi pada penumpukan plak dan penyempitan pembuluh darah. Pemeriksaan profil lipid membantu menilai kondisi tersebut.

Merokok dan Alkohol

Merokok dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan memperbesar risiko penyakit kardiovaskular. Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat memengaruhi tekanan darah dan kesehatan pembuluh darah.

Kurang Aktivitas Fisik dan Berat Badan Berlebih

Aktivitas fisik membantu menjaga tekanan darah, berat badan, kebugaran jantung, dan kesehatan metabolisme. Mulailah secara bertahap, misalnya dengan berjalan kaki dan mengurangi waktu duduk.

Usia dan Riwayat Keluarga

Usia dan riwayat keluarga tidak dapat diubah. Namun, keduanya dapat menjadi alasan untuk lebih aktif memantau tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan kebiasaan hidup.

Kenali Gejala Stroke

Stroke dapat muncul tiba-tiba. Segera cari pertolongan medis jika muncul:

  • Salah satu sisi wajah menurun atau tidak simetris.
  • Lengan atau kaki tiba-tiba lemah atau mati rasa, terutama pada satu sisi tubuh.
  • Bicara pelo, sulit berbicara, atau sulit memahami pembicaraan.
  • Penglihatan kabur atau ganda.
  • Pusing berat, sulit berjalan, atau kehilangan keseimbangan.
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.

Jangan menunggu semua gejala muncul atau membaik sendiri. Jika pasien mengalami gangguan kesadaran atau sulit menelan, jangan berikan makanan, minuman, atau obat tanpa arahan tenaga medis.

Cara Memperbaiki Pola Tidur

Buat Jadwal yang Konsisten

Tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari. Jika perlu, majukan waktu tidur secara bertahap agar tubuh lebih mudah menyesuaikan diri.

Pastikan Tidur Cukup

Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia dan kondisi individu. Evaluasi apakah tidur terasa memulihkan tubuh dan apakah rasa kantuk mengganggu aktivitas siang hari. Jika tetap lelah meskipun tidur cukup, pertimbangkan konsultasi medis.

Kurangi Paparan Layar

Batasi penggunaan ponsel, tablet, komputer, dan televisi menjelang tidur. Letakkan ponsel jauh dari tempat tidur dan matikan pemberitahuan yang tidak penting.

Batasi Kafein dan Makanan Berat

Kafein dapat mengganggu waktu atau kualitas tidur pada sebagian orang. Batasi kopi, teh berkafein, minuman energi, dan minuman sejenis pada sore atau malam hari jika membuat sulit tidur. Hindari makanan berat, berminyak, atau terlalu pedas menjelang tidur.

Ciptakan Kamar yang Nyaman

Jaga kamar tetap tenang, gelap, dan memiliki suhu yang nyaman. Gunakan tempat tidur terutama untuk tidur, bukan untuk bekerja atau melakukan aktivitas yang membuat tubuh tetap waspada.

Kelola Stres

Bernapas perlahan, melakukan peregangan ringan, menulis daftar tugas, bermeditasi, atau berdoa dapat membantu menenangkan pikiran. Jika stres berlangsung lama dan mengganggu tidur, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kapan Gangguan Tidur Perlu Diperiksakan?

Periksakan gangguan tidur jika sulit tidur terjadi berulang, mengganggu aktivitas siang hari, atau menyebabkan kelelahan terus-menerus. Mendengkur keras, jeda napas saat tidur, terbangun dengan rasa tercekik, dan sakit kepala pada pagi hari juga perlu dievaluasi karena dapat berkaitan dengan apnea tidur.

Mengantuk berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan keselamatan berkendara. Jangan mengemudi ketika sangat mengantuk.

Kesimpulan

Riset yang diberitakan detikHealth mengaitkan kebiasaan malam tertentu dengan risiko stroke 26 persen lebih tinggi Sumber 1.

Angka tersebut bukan kepastian bahwa tidur larut malam akan menyebabkan stroke. Risiko perlu dipahami bersama faktor lain, terutama tekanan darah, diabetes, kolesterol, merokok, aktivitas fisik, berat badan, usia, dan riwayat keluarga.

Perbaiki pola tidur secara bertahap dan konsisten, lakukan pemeriksaan kesehatan rutin, ikuti pengobatan sesuai anjuran, serta segera cari pertolongan jika muncul gejala stroke mendadak.

Tanya Jawab

Apakah tidur larut malam pasti menyebabkan stroke?

Tidak. Tidur larut malam atau pola tidur yang tidak teratur dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko dalam penelitian, tetapi tidak berarti kebiasaan tersebut pasti menyebabkan stroke pada setiap orang.

Apa arti risiko stroke 26 persen lebih tinggi?

Angka tersebut biasanya menggambarkan peningkatan risiko relatif pada kelompok tertentu dibandingkan kelompok pembanding. Angka ini tidak berarti 26 dari 100 orang pasti mengalami stroke.

Berapa jam tidur yang baik untuk orang dewasa?

Kebutuhan tidur berbeda pada setiap orang. Selain durasi, kualitas tidur, konsistensi jadwal, rasa segar saat bangun, dan tidak adanya gangguan tidur juga penting.

Apakah tidur siang dapat menggantikan tidur malam?

Tidur siang dapat membantu mengurangi rasa lelah dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menggantikan manfaat tidur malam yang teratur. Jika terus-menerus sangat mengantuk, penyebabnya perlu dievaluasi.

Bagaimana cara menurunkan risiko stroke?

Kontrol tekanan darah, jaga gula darah dan kolesterol, berhenti merokok, batasi alkohol, rutin bergerak, jaga berat badan, konsumsi makanan seimbang, dan pertahankan pola tidur teratur.

Apa gejala stroke yang membutuhkan pertolongan segera?

Gejalanya meliputi wajah menurun pada satu sisi, lengan atau kaki tiba-tiba lemah atau mati rasa, bicara pelo, gangguan penglihatan, pusing berat, dan kehilangan keseimbangan. Segera cari pertolongan medis dan jangan menunggu gejala membaik.

Kategori
👁️ 0
Bagikan

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kolom komentar ditutup.